Sabtu, 07 November 2015

Wanita Dimasa Remaja Semoga Baik-baik saja

Waktu terasa seolah bergerak dengan sangat lambat ketika kulihat dua orang karyawan berseragam putih hitam di salah satu Mall tengah bersenda gurau.Kembali terbayang masa-masa indah itu.Ketika seragam hitam putih masih ku kenakan. Sebuah seragam khusus yang dikenakan untuk anak-anak baru ataupun anak-anak praktek kerja lapangan (pkl) di mall tempatku Pkl.
 
Mungkin sedikit terlambat untukku menemukan cinta pertama.Tepatnya pada saat itu aku masih duduk di kelas dua Smk. Disaat keingin tahuan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keinginan untuk belajar.Disaat hal-hal buruk merupakan hal yang paling menarik dan menantang untuk dilakukan.Dan disaat itulah pertama kali aku belajar untuk jatuh cinta.
 
Jika mall tempatnya bekerja adalah sebuah desa, maka Mega adalah bunga desanya.Dia adalah buah bibir di antara anak-anak lelaki yang Pkl di mall tempatnya bekerja separuh waktu.Bukan sekedar karena keelokan wajahnya saja, tapi juga karena sifatnya yang sangat menarik.Matanya adalah bagian terindah yang ia miliki. Senyumnya adalah cayaha yang terpancar dari wajahnya. Dan ada banyak hal lain yang membuatnya menjadi medan magnet bagi para lelaki. 
 
Aku adalah seseorang yang sangat kekanak-kanakan dan usil. Hobiku adalah membuat orang lain tertawa. Menurutku membuat orang tertawa adalah salah satu alasan aku dilahirkan di dunia ini. Itu sebabnya aku selalu memanfaatkan sisi kreatif di bagian otak kananku untuk membuat lelucon ataupun hal-hal konyol yang mampu membuat orang lain tertawa ataupun kesal. Tingkat percaya diriku sangat tinggi.Bahkan saking tingginya, aku sering dikatakan sebagai seseorang yang tidak memiliki rasa malu.
 
Dibalik semua sifat menarik yang kupunya, tetap saja butuh usaha yang lumayan keras untuk membuat Mega menyadari kehadiranku di antara para siswa Pkl atau karyawan lelaki di Mall tempatku Pkl tersebut.
 
Selama sejam sekali Mega bekerja berpindah-pindah tempat.Aku selalu berusaha berdiri di tempat yang berada dalam jangkauan pandangannya.Aku juga sering mengantarkan keranjang belanjaan atau troli yang menumpuk di kasir-kasir ketika Mega sedang bekerja di tangga eskalatorataupun tempat yang tak jauh letaknya dari tumpukan troli dan keranjang belanjaan.
 
Mega terlihat sedang menata aksesoris-aksesoris wanita di lantai dasar.Ia berada sangat dekat dengan tempatku bekerja waktu itu. Ketika itu aku sedang mendorong satu buah troli.
 
“tin tin... tin tin ...” kutabrakan troli tersebut dengan lambat ke arahnya.
 
“ishhhhhh” katanya dengan mimik wajah yang jutek.
 
“kan tadi udah diklakson mbak” jawabku mati langkah yang berada sedekat itu dengan dirinya.
 
“kadonya mana?” pintanya dengan nada yang lumayan menekan.
 
“kado apa?” jawabku bingung. Otakku pada saat itu seperti sebuah mesin tua yang sudah lama tidak dihidupkan.Butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar memanaskannya.Dan setelah cukup lama akhirnya aku sadar, hari itu adalah hari valentine.Hari yang katanya orang-orang adalah hari kasih sayang, padahal bagiku itu adalah hari biasa yang tidak lebih istimewa dari hari minggu.
 
Kejadian di aksesoris cewek itu merupakan awal percakapanku dengan Mega.Setelah itu aku mulai lebih berani untuk mencari perhatiannya.Setelah berusaha lumayan keras, aku mulai merasa tidak ada bedanya untuk mendapatkannya dengan menciptakan sebuah mesin waktu.Itu adalah hal yang mustahil.
 
Mendadak aku mulai percaya bahwa aku bisa menciptakan sebuah mesin waktu ketikaMegamulai memberikan isyarat bahwa ia mulai tertarik kepadaku. Seorang lelaki kampung yang baru belajar gaul dan belum mengerti apa-apa tentang cinta mulai mendapatkan sebuah harapan dari seorang gadi yang merupakan idaman para lelaki.
 
“selamat pagi kakak. Udah bangun belum? Jangan lupa sarapan ya”
 
“Pagi juga Mega. Kakak baru bangun nih. Oh ya kakak sayang Mega”
 
“apa sayang? Yaudah deh kalo gitu sayang balik”
 
Sebuah cerita di pagi yang indah.Sebuah awal dimana kami dulu mulai menjalani hari dengan benar-benar berbagi sayang.Dua orang remaja yang saling menyayangi namun tidak pernah memiliki sebuah hubungan yang jelas.Sedikitpun aku tidak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan bahwa betapa aku sangat menginginkannya untuk jadi kekasihku.
 
Selama ini aku pikir aku adalah seorang lelaki yang penuh percaya diri. Tapi disaat itu aku baru tahu bahwa di depan wanita yang sangat-sangat ku sayangi aku adalah seorang pengecut. Bahkan aku tidak memiliki sedikitpun keberanian untuk sekedar mengajaknya jalan berdua ataupun mengungkapan betapa inginnya aku untuk menjadi kekasihnya.
 
Waktu dan keadaan yang aku punya tidak sama dengan anak lelaki umumnya.Di pagi dan malam harinya aku harus bekerja dan disiang harinya aku bersekolah.Itu sebabnya hubungan yang indah antara aku dan Mega tidak pernah melebihi sebatas tempat kerja dan komunikasi melalui handphone saja.Sebuah hubungan di dalam keterbatasan namun sangat membahagiakan bagiku.Justru dengan keterbatasan hubungan ini aku menjadi mengerti bahwa rasa yang kurasakan saat itu murni hanya cinta.Tidak ada embel-embel lainnya.
 
cinta ini menjadikanku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Minuman keras, tindik, dan banyak hal-hal buruk yang sudah mulai hilang dari diriku.Bahkan karena cinta inilah aku mulai bisa dan berani mengendarai motor. Aku berharap Mega kelak menjadi wanita pertama yang duduk di belakangku.Sekalipun aku tidak memiliki keberanian untuk mengajaknya jalan.Tapi aku tetap berharap.
 
Jarak dan waktu adalah salah satu kekuatan terbesar dari cinta.Kebahagiaan yang kurasakan ini tidak akan bertahan lama. Disaat aku sudah selesai Pkl dan disaat Mega sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain. Aku memang menyetujuinya menjalin hubungan dengan lelaki lain. karena ada hal-hal yang tidak bisa ku berikan kepada Mega dan aku masih ingin tetap bersamanya. Walaupun aku sempat tidak percaya dia akan tega melakukannya. Terkadang cinta memaksa kita untuk melakukan hal-hal bodoh yang sebenarnya tidak di perlukan hanya karena rasa takut kehilangan cinta tersebut.
Hubunganku dengan Mega tetap bertahan meskipun Mega sudah memiliki sebuah hubungan yang lain. Untuk sesaat aku merasa sangat bodoh. Aku merasa hubunganku dengan Mega hanyalah hiburan baginya atau hanya karena aku yang terlalu percaya diri dan berharap dari kata-kata sayang yang ia ucapkan. Luka yang membekas tetap tidak mampu menghapus rasa sayang yang begitu besar ini.Aku menunggu hingga rasa sayang ini memudar dan hilang dengan sendirinya.
 
“Mega pengen kakak jadi ayah, kakak, teman, dan pacar untuk Mega” kata-katanya yang ku kudengar ketika aku menelponnya.
 
Aku pernah mencoba untuk menjadi ayah, kakak, teman, dan pacar sekaligus untuk Mega, namun aku berhenti.Karna disaat dia sibuk dengan hubungan barunya.Aku merasa Mega hanya menginginkanku untuk menjadi temannya saja.Tidak pernah lebih.Lambat tapi pasti, rasa sayang inipun mulai memudar.
 
Tepat di hari ulang tahunnya aku melakukan hal konyol.Tidak mengenakan pakaian yang rapi dan sangat kaku ketika menjumpainya. Dari pesan-pesan yang ia kirim, Ia terlihat bahagia dengan hadiah yang kuberikan.
 
“Mega baru sadar kalau selama ini ada orang yang bener-bener sayang samaMega” sebuah pesan yang ia kirimkan yang membuatku sadar bahwa hubungan ini telah berakhir.
 
Satu-satunya hal yang membuat Mega mengerti dan merasakan cinta yang aku punya hanyalah waktu dan keadaan.Sudah sangat terlambat untukku menyadarinya.
 
Masa-masa yang indah itu mungkin memang tak pernah menjadi seindah yang Megainginkan.Memang tak seindah kisah-kisah romantis dari negeri dongeng seperti cinderlela, si cantik dan si buruk rupa ataupun putri salju.Tapi bagiku itu adalah salah satu kisah terindah yang pernah ku alami.Yang sesekali mampu membuatku tersenyum sendiri.
 
Setelah sekian lama berpisah, akhirnya rasa rindu itupun muncul. Sesekali aku memperhatikan Mega melalui jejaring sosial yang ia punya. Aku tidak pernah bermaksud untuk masuk atau merusak hidupmu Mega.Aku hanya memastikan bahwa kamu disana baik-baik saja.
 
Disaat kita begitu mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh maka tidak adalagi rasa sakit ketika melihatnya bahagia bersama pilihan hidupnya yang baru.Dari hati yang terdalam doa agar ia bahagia akan terpanjat dengan sendirinya. Mega kamu memang pantas bahagia dengan lelaki yang lebih baik dariku.Mega.Aku hanya berharap kamu dimanapun berada semoga baik-baik saja dan lebih berbahagia disana.

Jumat, 06 November 2015

CERPEN ISLAMI - ASMA NADIA



Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat